8 Dapur Program MBG di Kalteng Ditutup Sementara, Terkendala Sanitasi dan IPAL

8 Dapur Program MBG di Kalteng Ditutup Sementara, Terkendala Sanitasi dan IPAL

MBG-ilustrasi-

DISWAYKALTENG.ID - Sebanyak delapan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di wilayah Kalimantan Tengah terpaksa menghentikan operasionalnya sementara waktu sejak awal April 2026.

Penutupan ini dilakukan untuk memastikan standar kebersihan, sanitasi, serta instalasi pengolahan limbah yang digunakan dalam program tersebut benar-benar memenuhi ketentuan yang berlaku.

Langkah penghentian sementara ini menjadi bagian dari upaya evaluasi kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah guna meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah.

Keputusan tersebut juga mengacu pada Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Nomor 401.1 Tahun 2025 mengenai petunjuk teknis tata kelola penyelenggaraan program MBG Tahun Anggaran 2026.

BACA JUGA:52 ASN Mangkir Saat Apel Lebaran Pemprov Kalteng, BKD Siapkan Teguran Tertulis

Delapan SPPG Belum Penuhi Standar Sanitasi

Berdasarkan laporan Koordinator Regional Provinsi Kalimantan Tengah hingga 31 Maret 2026, delapan unit dapur SPPG belum memenuhi sejumlah persyaratan penting.

Beberapa fasilitas tersebut belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang sesuai standar operasional.

Kondisi tersebut membuat operasional dapur sementara dihentikan hingga seluruh persyaratan kesehatan dan lingkungan dapat dipenuhi.

Langkah ini dilakukan untuk mencegah potensi risiko terhadap kualitas makanan yang diproduksi bagi para siswa penerima program MBG.

SPPG Nanga Bulik Ikut Dihentikan Sementara

Salah satu dapur yang terdampak kebijakan ini berada di Kota Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau.

Kepala Dapur SPPG Nanga Bulik, Ayu Mutiara Simanjuntak, membenarkan bahwa fasilitas yang dikelolanya termasuk dalam daftar unit yang harus menghentikan operasional sementara.

Menurut Ayu, saat ini pihak pengelola tengah fokus melakukan pembenahan infrastruktur agar sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah.

“Benar, SPPG di Kota Nanga Bulik salah satu yang dihentikan sementara. Saat ini kami sedang melakukan perbaikan IPAL agar sesuai standar yang ditetapkan,” ujar Ayu, Jumat (3/4/2026).

Ia menambahkan bahwa perbaikan ini sangat penting untuk menjaga kualitas produksi makanan serta memastikan keamanan pangan bagi para siswa.

“Ini penting untuk meminimalisir risiko terhadap kualitas produksi, mutu gizi, dan keamanan pangan,” jelasnya.

Daftar 8 SPPG yang Dihentikan Operasionalnya

Adapun delapan unit SPPG di Kalimantan Tengah yang terdampak kebijakan penghentian sementara operasional meliputi:

  1. SPPG Nanga Bulik, Kabupaten Lamandau – Yayasan Kemala Bhayangkari
  2. SPPG Kota Palangka Raya – Pahandut Panarung 6 – Yayasan Obor Kalimantan Halendang
  3. SPPG Gunung Mas – Manuhing Tumbang Talaken – Yayasan Obor Kalimantan Halendang
  4. SPPG Kota Palangka Raya – Pahandut Langkai 6 – Yayasan Obor Kalimantan Halendang
  5. SPPG Kapuas – Selat Hulu – Yayasan Terang Anak Borneo
  6. SPPG Pulang Pisau – Kahayan Hilir Anjir – Yayasan Kemala Bhayangkari
  7. SPPG Murung Raya – Murung Beriwit – YPPSDP
  8. SPPG Seruyan – Kuala Pembuang 1 – Yayasan Cahaya Al Barkah Bambuduri

Penghentian ini bersifat sementara hingga seluruh dapur tersebut berhasil memenuhi standar sanitasi dan pengolahan limbah sesuai aturan.

Pelajar Kecewa, Orang Tua Justru Mendukung

Kebijakan ini memunculkan berbagai reaksi di masyarakat. Sejumlah siswa mengaku kecewa karena program makan bergizi yang baru berjalan tersebut harus terhenti sementara.

Bagi sebagian pelajar, program MBG menjadi momen menyenangkan karena mereka bisa makan bersama teman-teman di sekolah.

Namun di sisi lain, banyak orang tua justru memberikan dukungan penuh terhadap langkah evaluasi ini.

Mereka menilai aspek kesehatan dan keamanan makanan jauh lebih penting daripada kelanjutan program yang belum memenuhi standar.

Salah satu orang tua siswa di Nanga Bulik, Rina, mengaku lebih memilih program dihentikan sementara daripada berisiko terhadap kesehatan anak-anak.

“Syukurlah kalau dihentikan dulu sementara untuk perbaikan standar kebersihan. Kami tidak mau anak-anak jatuh sakit karena masalah di dapur,” ujarnya.

Ia berharap proses perbaikan dapat dilakukan dengan cepat agar program makan bergizi bisa kembali berjalan.

“Semoga perbaikannya cepat selesai, karena anak saya biasanya susah makan. Tapi kalau makan bersama teman-temannya di sekolah lewat program MBG ini, dia jadi lebih nafsu makan,” tambahnya.

Operasional Menunggu Hasil Verifikasi

BACA JUGA:BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Kalimantan Tengah 3–9 April 2026, Hujan Lebat dan Petir Berpotensi Terjadi

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan kedelapan dapur MBG tersebut akan kembali beroperasi.

Pihak pengelola masih menunggu hasil verifikasi dari pihak terkait setelah proses perbaikan fasilitas IPAL serta pengurusan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi selesai dilakukan.

Jika seluruh persyaratan telah terpenuhi, operasional dapur program makan bergizi tersebut diharapkan dapat kembali berjalan normal.

Program MBG sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah, terutama di daerah yang membutuhkan perhatian lebih terhadap pemenuhan nutrisi.

Karena itu, memastikan keamanan makanan serta standar kebersihan dapur menjadi hal yang sangat penting sebelum program dijalankan kembali secara penuh.

Sumber: