Mandi Air Panas atau Air Dingin, Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mandi Air Panas atau Air Dingin, Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mandi-ilustrasi-

DISWAYKALTENG.ID - Perdebatan soal suhu air mandi seolah tak pernah ada habisnya. Sebagian orang merasa tubuh jauh lebih rileks setelah mandi air panas, terutama setelah seharian beraktivitas.

Namun, tak sedikit pula yang mengaku lebih segar, fokus, dan berenergi usai mandi air dingin.

Di balik preferensi masing-masing, berbagai pakar kesehatan dan penelitian ilmiah telah mencoba mengungkap bagaimana suhu air mandi sebenarnya memengaruhi tubuh dan pikiran. Lantas, mana yang lebih baik: mandi air panas atau mandi air dingin?

Mandi air panas sudah lama menjadi ritual favorit banyak orang untuk melepas penat. Dilansir dari IFL Science, Minggu (28/12/2025), sebagian besar orang merasa paling nyaman mandi pada suhu sekitar 40–41 derajat Celsius.

Sensasi hangat dari air panas memberikan efek relaksasi yang kuat. Otot-otot yang tegang menjadi lebih rileks, rasa lelah berkurang, bahkan kualitas tidur disebut bisa meningkat jika mandi air panas dilakukan sebelum tidur.

Tak hanya itu, air panas juga membantu melancarkan sirkulasi darah. Paparan panas membuat pembuluh darah melebar, sehingga aliran darah meningkat dan membantu mengurangi kekakuan pembuluh darah.

Efek ini dinilai bermanfaat bagi kesehatan jantung dalam jangka panjang.

BACA JUGA:Dijuluki Swiss van Java, Ini 10 Tempat Wisata di Garut yang Wajib Masuk Daftar Liburan

BACA JUGA:Jangan Asal Makan! Ini 5 Makanan yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi Bersama Mi Instan

Namun, manfaat tersebut tetap memiliki batas. Dokter kulit bersertifikasi di Manhattan, New York City, sekaligus pendiri SmarterSkin Dermatology, Sejal Shah, mengingatkan bahwa mandi air panas secara berlebihan justru dapat merusak kesehatan kulit dan rambut.

“Air panas menghilangkan minyak alami kulit sehingga menyebabkan kulit kering, gatal, dan akhirnya eksim. Hal yang sama juga terjadi pada rambut,” jelasnya.

Selain itu, ahli jantung Hassan Makki menyoroti risiko lain yang kerap luput disadari, yakni penurunan tekanan darah secara mendadak.

“Ini disebut sinkop vasovagal, dan mandi air panas adalah tempat yang tepat untuk terjadinya kondisi tersebut,” ujarnya.

Kondisi ini bisa memicu pusing, lemas, bahkan pingsan, terutama jika mandi air panas terlalu lama atau pada orang dengan tekanan darah rendah.

Berbeda dengan air panas, mandi air dingin identik dengan efek menyegarkan dan membangkitkan energi.

Meski dulu kerap digunakan secara ekstrem, kini sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan air dingin dalam batas wajar dapat memberikan manfaat kesehatan.

Dosen Fisiologi Olahraga dan Kesehatan Universitas Hertfordshire, Lindsay Bottoms, menjelaskan bahwa air dingin mampu mengaktifkan sistem saraf simpatik.

“Ketika ini diaktifkan, misalnya saat mandi air dingin, Anda akan mengalami peningkatan hormon noradrenalin,” jelasnya.

Peningkatan hormon tersebut berkaitan dengan naiknya detak jantung dan tekanan darah, yang dinilai dapat meningkatkan kebugaran tubuh.

Selain itu, tubuh akan bekerja lebih keras untuk menghangatkan diri setelah terpapar air dingin, sehingga sirkulasi darah dan metabolisme ikut meningkat.

Tak hanya berdampak fisik, mandi air dingin juga disebut memiliki manfaat mental. Bottoms menyebut ada aliran pemikiran yang meyakini air dingin dapat meningkatkan kewaspadaan mental, bahkan berpotensi membantu meredakan gejala depresi melalui stimulasi saraf menuju otak.

Meski terdengar menjanjikan, mandi air dingin tetap memiliki risiko jika dilakukan secara ekstrem. Pakar kesehatan air Glen Coulson memperingatkan bahaya syok air dingin.

“Menenggelamkan diri dalam air yang sangat dingin dapat menyebabkan tubuh mengalami syok air dingin, mulai dari hiperventilasi hingga serangan jantung,” tegasnya.

Jadi, Mana yang Lebih Baik? Ini Saran Para Ahli

Melihat manfaat dan risiko di masing-masing suhu, para ahli sepakat bahwa pilihan terbaik bukan berada di dua ekstrem tersebut. Suhu air yang terlalu panas atau terlalu dingin sama-sama berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Dokter kulit sekaligus pendiri dan CEO Episciences, Carl Thornfeldt, menyarankan pendekatan yang lebih seimbang.

“Solusi terbaik adalah mandi dengan air hangat suam-suam kuku, lalu diakhiri dengan bilasan air dingin selama beberapa detik,” ujarnya, dikutip dari The Healthy (21/11/2016).

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Glen Coulson, terutama saat cuaca sedang panas ekstrem. Ia menegaskan bahwa mandi air dingin tidak otomatis menurunkan suhu inti tubuh.

“Selalu disarankan mandi dengan air hangat kuku, yakni suhu air yang tidak panas dan tidak dingin, dibandingkan mandi dengan air dingin,” katanya.

 

Sumber: